EKONOMI

Ojol Belum Dilindungi Undang-Undang Hubungan Kerja No. 13/2003

Pengemudi Motor atau Mobil Online saat ini sama sekali belum terlindungi oleh Undang-Undang yang mengatur hubungan kerja No. 13/2003, demikian diungkapkan oleh Azman Muchtar. MA, Sekretaris Jenderal Serikat Pengemudi Indonesia Online (SPION) pada “Dialog Membangun Ketenangan Kerja di Perusahaan” kemarin di Hotel Maharani Mampang, Kamis (28/12/2018)

Azman menjelaskan bahwa UU No. 13 tersebut belum memuat pasal perlindungan tentang “tenaga kerja luar ruangan” seperti para pengemudi ojek online atau Ojol karena UU tersebut merupakan produk lama yang dibikin saat industri 4.0 belum diterapkan di Indonesia.

Maraknya komunitas yang menuntut perbaikan nasib dari Provider Online seperti Gojek atau Grab selama ini belum ada yang berhasil memuaskan anggotanya. Hal ini menurutnya disebabkan oleh sifat dan dasar hukum komunitas tersebut tidak memungkinkan untuk menjadi partner berunding bagi perusahaan. Oleh kerena itu menurut dia SPION didirikan guna menjembatani hal tersebut. Dasar hukum pendirian SPION adalah UU. No 21/2000 tentang Serikat Pekerja dan Kepmen No. 16/2007. Dengan demikian dirinya yakin anggota SPION akan lebih memiliki bargain yang lebih jelas.

“Ojol merupakan bentuk lain dari Outsourcing karena pada dasarnya pola hubungannya tak berbeda dengan penyerahan pekerjaan dari sebuah industri besar kepada pemilik alat produksi seperti pada sektor tekstil atau sepatu, hanya saja provider menyebut mereka mitra agar terlepas dari kewajiban-kewajiban yang timbul akibat hubungan kerja itu” paparnya

“Akan tetapi yang terjadi adalah eksploitasi berbungkus kemitraan. Seorang pengemudi Online harus bekerja 14-16 jam sehari jika ingin mendapatkan bonus atau poin, dan itu dilakukan 7 hari kerja, jadi kapan istirahatnya” tambahnya

Dalam kesempatan yang samam Faisal Rizza Sh., MH. Kasi Penanganan Mogok Kerja dan Penutupan Perusahaan Kementrian Tenaga Kerja membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan bahwa Dirjen Syarat Kerja Nakertrans saat ini juga tengah mendiskusikan klausul perlindungan Ojol tersebut.

“untuk saat ini memang belum ada klausul tentang perlindungan bagi Ojol, akan tetapi peran dari serikat seperti SPION akan lebih berarti jika difokuskan pada perlindungan pengemudi terhadap kecelakaan atau jaminan hari tua mengingat tingginya resiko pekerjaan ini” terangnya.

SPION yang berdiri pada 2013 dan didaftarkan pada Nekertran ini menurut Azman merupakan jawaban atas berubahnya pola hubungan kerja, dirinya mengatakan bahwa  pengemudi Ojol yang menjadi anggotanya akan diperjuangkan untuk mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang lebih baik. Akan tetapi hal tersebut hanya akan bisa dicapai jika semua pengemudi online mau melepaskan ego kelompok yang selama ini eksis dan berjuang bersama dalam kolektifitas yang dihimun dalam serikat pengemudi yang sah menurut Undang-undang ketenagakerjaan, papar Master ketenagakerjaan lulusan Jerman itu.

Leave a Response