POLITIK

Indonesia Muda : TKN 01 Segera Laksanakan Seruan Capres Jokowi Untuk Kembalikan Lahan ke Negara

Jakarta – Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) berbicara soal komitmen pemerintah memberikan konsesi untuk masyarakat di sekitar hutan.Jokowi menyinggung penerima konsesi besar dan dia menunggu si pemilik mengembalikan lahan mereka ke negara saat orasi di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Minggu (24/2) malam.

Seruan Jokowi saat orasi di Sentul itu menurut Tim Advokasi dan Hukum Indonesia Muda Ali Zubeir Hasibuan, SH memunculkan pertanyaan. Ia bertanya seruan Jokowi dalam kapasitasnya sebagai calon presiden itu sebenarnya ditujukan untuk siapa?

Bagi kami Tim Advokasi dan Hukum Indonesia Muda berpikir positif saja, karena Joko Widodo berpidato dalam kapasitas sebagai Calon Presiden sudah tentu seruan itu ditujukan Kepada Tim Kampanye Nasional (TKN), sudah semestinya Pak Erick Tohir, Pak Luhut Binsar Panjaitan, Pak Jusuf Kalla sebagai Tim  Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf untuk segera mengindahkan Seruan Calon Presidennya, dalam siaran persnya, di Jakarta,Senin (25/2/2019).

Apalagi  diluar itu ada juga lahan yang sudah memiliki ketetapan Hukum namun belum dieksekusi seperti lahan pak Sihar Sitorus seluas 47 ribu hektare, di Padang Lawas, Sumatera Utara juga segera mengindahkan seruan mengembalikan Lahan tersebut”,sambungnya.

Zubeir membuka siapa para 29 taipan yang dalam bahasa Jepang artinya tuan besar, yang menguasai kelompok perusahaan sawit di Indonesia dan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar negeri. Dimana dalam proses penguasaan dan penerbitan HGU-nya masih menyisakan segudang masalah bagi masyarakat adat dan petani sampai sekarang.

Mereka adalah Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus Dkk), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine Matheson (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting (Lim Kok Thay, Malaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), dan Surya Dumai (Martias dan Ciliandra Fangiono).

Lalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo (George Tahija), BW Plantation-Rajawali (Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny Subianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI (Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas (Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung Lingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, dan Budhi Istanto).

Dengan demikian, tambah Zubeir, dari prinsip dasar yang melatarbelakangi lahirnya UU PA dan segudang masalah yang bertahun-tahun bergejolak di masyarakat akibat penerbitan HGU kepada beberapa group yang telah diuraikan, Jokowi sebaiknya menglarifikasi pernyataan saat debat kedua.

“Sebagai seorang Presiden sudah sepantasnya Bapak Joko Widodo mencabut tudingan nuansa cara pandang mengedepankan hak milik pribadi dari pada penguasaan negara atas tanah dan memohon maaf kepada Bapak Prabowo Subianto,”.

 

Leave a Response