OPINI

Membangun Peradaban Ekonomi Lokal Yang Terkoyak

Jakarta – Seperti kita ketahui bersama banyak silang pendapat tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya, baik di media elektronik pun media mainstream. Kadang kita semua (masyarakat) sering kali dinabobokan dengan berbagai informasi tentang pertumbuhan ekonomi.

Ditambah lagi dengan bangunan  – bangunan infrastuktur yang”seolah” membenarkan pendapat itu.

Bagaimana dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi kalo masih import beras, gula. Ditambah yang lebih ironis lagi, publik disajikan dengan import garam. Ditengah negara kepulauan, dan panen garam yang melimpah. Harga garam produksi petani lokal terjun bebas. Akibat kelebihan stok, kini harga jualnya hanya berada di kisaran Rp 300 per kilogram (kg). Puluhan ribu ton garam produksi petani tambak lokal pada tahun lalu pun belum terjual. Sangat ironisnya pemerintah sampai mengimport garam berton-ton.

Apa yang dipakai sebagai parameter pertumbuhan ekonomi oleh rezim ini. Menstabilkan harga dengan import ato membangun dan menggairahkan industri – industri rakyat (lokal).

Belanda dengan VOC sampai tahunan menjajah republik ini, karena rempah – rempahnya. Berangsur negara-negara  asing masuk ke Indonesia mengupas dan mengeruk habis hasil bumi dan hasil alam bumi Indonesia.

Tanpa sedikitpun negara mempunyai nilai tawar. Efek domino dari sistem kapitalism jelas dan nyata di republik ini, dan pemerintah tidak hadir dalam proses tersebut. Sengaja memakai istilah “pemerintah tidak hadir”, karena ada pembiaran sistemik yang dilakukan berantai, dari tingkat nasional, provinsi sampai daerah.

Memang tidaklah mudah, membangun gerakan ekonomi rakyat secara masif dan bersama-sama. Ya karena masing – masing individu tidak mempunyai ide gagasan bersama untuk membangun, tidak mempunyai kesadaran dengan berkelompok akan menjawab segala masalah dan salah satunya adalah ekonomi.

Pilpres telah usai, dengan menyisakan banyak masalah yang absurd. Penulis tidak masuk ranah tersebut, tapi kami mencoba untuk menjahit benang merah antar daerah – daerah, yang tentunya mulai menggairahkan ekonomi rakyat ditingkat lokal.

Bagaimana rakyat punya hak di daerahnya utk bekerja. Salah satu yang sangat krusial adalah “membangun kembali peradaban ekonomi rakyat di tingkat lokal” . Kearifan dan budaya lokal adalah dasar kita untuk bangkit dan berdaulat secara ekonomi.

Penulis

Aktifis Gerakan Rakyat, Wawan Leak

Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Leave a Response