OPINI

Stop Perilaku Primitif “Bakar Sampah Sembarangan”

Stela Vendredi, PJLP Dinas Lingkungan Hidup 

Jakarta – Perilaku primitif ‘Bakar Sampah Sembarangan’ di jaman now istilah saat ini masih saja terjadi bukan hanya di perkampungan tapi perkotaan seperti Jakarta pun tak luput dari perilaku buruk tersebut. Kebiasaan buruk masyarakat yang sulit untuk dihilangkan dan mereka hanya tahu bahwa sampah kalau tidak di buang ya di bakar, pola pikir seperti ini yang harus di rubah.

Sepeti dilansir dari Scientific American, sekitar 40 persen limbah atau setara dengan 1,1 miliar ton sampah di dunia dibakar di tempat terbuka. Ketika Anda membakar sampah, berbagai bahan kimia yang terkandung di dalamnya akan memuai ke udara dan memicu polusi.

Saat ini sampah telah menjadi permasalahan besar dalam kehidupan sehari-hari kita. Selain karena kesadaran kita untuk tidak membuang sampah sembarangan yang selalu terabaikan, juga karena memang sistem pengelolaan sampah itu sendiri di lingkungan kita yang belum baik.

Apalagi yang namanya sampah organik, seperti  plastik, kertas, karton, kaleng, kaca, styrofoam, dll. Belum lagi yang namnya  sampah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sampah ini mengandung zat yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Apabila limbah B3 ini dibuang sembarangan maka racun yang ada dalam limbah tersebut dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah maupun tanaman yang berbahaya bila dikonsumsi manusia karena mengandung racun.

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup terkait telah berupaya serius dalam menanggulangi masalah utama ibukota yaitu sampah, banyak kebijakan strategis yang sudah dihasilkan sehingga sampah dapat terkelola dengan baik dan benar.

Namun sayang banyak sebagian masyarakat tidak mengamini kebijakan tersebut, bahkan sebagian masyarakat banyak yang belum paham atau tahu banyak bagaimana sampah rumah tangga khusus nya harus di kelola mulai dari pintu ke pintu, tujuan dari kebijakan ini selain mengurangi jumlah volume sampah ibukota ( khusus-nya sampah plastik ) yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Asap yang ditimbulkan dari pembakaran sampah mengandung senyawa gas yang sangat berbahaya, dapat menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) sangat berbahaya terutama bagi  anak-anak (Balita), Jangan biarkan keceriaan buah hati kita harus terenggut bahkan atau sampai meregang nyawa akibat kelalaian kita sendiri.

BMKG merilis hasil pantau cuaca bahwa kemarau panjang akan melanda Indonesia.  Musim kemarau ini bisa menjadi sangat bahaya jika tak segera diantisipasi sedini mungkin, selain musibah kekeringan, masyarakat dilarang melakukan kegiatan “BAKAR SAMPAH SEMBARANGAN” karena musim kemarau berpotensi membawa angin sehingga api yang dihasilkan dari bakaran sampah tersebut dapat menyebar dan akhir nya menjadi  penyebab utama terjadinya musibah Kebakaran, tentu hal seperti ini tidak kita inginkan, apalagi sampai harus merenggut jiwa dan harta orang – orang yang kita sayangi.

Terkait hal tersebut masyarakat wajib waspada bahu membahu bersama pemprov DKI Jakarta menjaga kondisi lingkungan kita agar musibah seperti kekeringan dan kebakaran (Jaya:65) dapat diminimalisir.

“Bukan isapan jempol belaka, seminggu yang lalu nyaris saja rumah penulis menjadi korban kebiadaban perilaku  negatif tersebut, dilakukan oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab, Alhamdulillah tetangga disamping rumah saat itu sedang terjaga siang ba’da sholat zhuhur dan langsung berteriak minta tolong karena api yang sudah berasap hitam pekat itu sudah berjarak 10 cm dari halaman depan rumah penulis dan hitungan menit siap melalap dan menjalar kiri dan kanan rumah lainnya karena api membesar akibat tertiup angin, bersyukur api segera dapat dipadamkan berkat tindakan dan upaya tetangga disekitar rumah penulis.

Dari peristiwa diatas, penulis mengajak dan waspad agar hal serupa tidak terjadi. Masyarakat harus lebih tanggap dan waspada terhadap segala potensi yang dapat menyebabkan terjadinya musibah kebakaran tersebut, khusus nya yang disebabkan dari perilaku negatif ‘Bakar Sampah Sembarangan. Cegah segera agar hal tersebut tidak terulang  kembali dan akhir nya kita kehilangan orang – orang yang kita sayangi akibat ulah buruk tersebut. Kalau bukan kita siapa lagi, Kalau bukan sekarang kapan lagi, Jangan biar kan Penyesalan datang lebih awal, mari berbuat untuk kemaslahatan.

Ingat buang lah sampah pada tempatnya, dan “JANGAN BAKAR SAMPAH SEMBARANGAN” sekali lagi “JANGAN BAKAR SAMPAH SEMBARANGAN”…

“INGAT” bahwa Oleh karena nya mari berbuat, rubah mindset dan perilaku kita agar lingkungan tempat hidup kita menjadi bersih, sehat & Nyaman.

Para pemangku kepentingan / Stakeholder terkait bersinergi mulai dari yang terbawah RT / RW / LURAH / CAMAT dan seterusnya untuk menggalak kan kembali program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) diseluruh wilayah lingkungan ibukota DKI Jakarta Raya.

 

Penulis :

Jakarta , Selasa ( 9/7/2019)

Stela Vendredi, PJLP Dinas Lingkungan Hidup

Kec. Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Response